
Jakarta, 11 Agustus 2026 – Analis politik sekaligus Executive Director Trias Politika, Agung Baskoro, mendorong aktivis dan generasi muda yang ingin terjun ke dunia politik untuk membangun kekuatan secara terukur melalui penguasaan data, pemanfaatan media sosial, penguatan jaringan relawan, hingga kemampuan komunikasi publik.
Hal tersebut disampaikan Agung dalam pemaparannya di hadapan peserta yang mayoritas berasal dari kalangan anak muda. Ia menilai, perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat membuat strategi politik tidak lagi cukup hanya mengandalkan pendekatan konvensional.
Menurut Agung, data harus menjadi salah satu fondasi utama dalam menyusun strategi politik. Data yang digunakan, kata dia, tidak boleh diterima begitu saja, melainkan harus melalui proses verifikasi, validasi, dan konfirmasi agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang tepat.
Selain data, Agung menekankan pentingnya kemampuan aktivis muda memanfaatkan media sosial. Menurutnya, platform digital memberikan peluang besar untuk membangun komunikasi langsung dengan masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya besar seperti penggunaan media konvensional.
“Media sosial itu penting untuk menjangkau audiens secara efektif dan efisien. Teman-teman tidak perlu membayar media online, media cetak, atau media elektronik. Tinggal kita rajinkan,” ujar Agung.
Ia bahkan mengajak peserta untuk mulai memanfaatkan media sosial bukan hanya untuk kepentingan politik, tetapi juga mengembangkan usaha dan memperluas jejaring.
Dalam sesi tersebut, seorang peserta menceritakan pengalamannya menjalankan usaha depot air isi ulang yang selama ini dipromosikan melalui spanduk dan rekomendasi dari orang ke orang. Agung kemudian mendorong peserta tersebut melihat media sosial sebagai salah satu sarana untuk memperluas jangkauan pasar.
Menurutnya, penggunaan media sosial secara konsisten dapat membantu pelaku usaha maupun aktivis membangun basis audiens yang lebih luas.
Jangan Sekadar Mengejar Jumlah Follower
Agung juga mengingatkan aktivis muda agar tidak terjebak pada ukuran popularitas berdasarkan jumlah pengikut di media sosial.
Menurutnya, kualitas pengikut justru lebih penting dibandingkan sekadar mengejar angka.
“Jangan kejar jumlah, tetapi kualitas follower,” katanya.
Ia menjelaskan, sebuah akun dengan jumlah pengikut yang tidak terlalu besar tetap dapat memiliki pengaruh strategis apabila pengikutnya berasal dari kelompok yang relevan, seperti tokoh politik, kepala daerah, pejabat, maupun pemangku kepentingan lainnya.
Karena itu, aktivis muda perlu memahami siapa audiens yang ingin dibangun dan bagaimana menjaga hubungan dengan mereka secara konsisten.
Bangun Relawan Melalui Program Nyata
Dalam membangun gerakan politik, Agung juga mendorong peserta untuk tidak hanya mengandalkan jaringan relawan yang bersifat informal. Menurutnya, jaringan politik yang kuat harus dibangun melalui program-program yang nyata dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Ia mencontohkan program pemberdayaan masyarakat di tingkat desa maupun kecamatan sebagai salah satu cara membangun kedekatan sekaligus kepercayaan dengan masyarakat.
“Kalau mau membuat relawan, jangan hanya relawan programnya, tetapi programnya yang baik dan berjalan,” ujarnya.
Menurut Agung, keberadaan program yang nyata dapat menjadi fondasi terbentuknya jaringan sosial dan politik yang lebih berkelanjutan.
Ia juga menilai kesiapan logistik tidak dapat diabaikan dalam membangun gerakan politik. Berbagai kebutuhan, mulai dari pembentukan tim hingga aktivitas di lapangan, membutuhkan sumber daya yang memadai.
Karena itu, aktivis muda juga perlu memahami bagaimana membangun dukungan pendanaan secara tepat, termasuk melalui donor, sponsor, maupun sumber pendanaan lain yang sesuai dengan ketentuan.
Kuasai Komunikasi Publik
Selain membangun jaringan dan basis dukungan, Agung menekankan pentingnya kemampuan komunikasi publik bagi aktivis yang ingin masuk ke panggung politik.
Ia membagikan strategi sederhana ketika menyampaikan gagasan dalam berbagai forum, termasuk televisi, podcast, maupun ruang publik. Menurutnya, seorang komunikator harus mampu menyampaikan pesan secara ringkas dengan menjawab tiga hal utama: gagasan yang dibawa, persoalan yang ingin diselesaikan, serta solusi yang ditawarkan.
“Yang pertama, gagasan kelas ini apa? Masalahnya apa? Yang kedua, konflik atau persoalannya apa, solusinya bagaimana,” jelasnya.
Menurut Agung, penyampaian pesan yang langsung pada pokok persoalan akan membuat audiens lebih mudah memahami gagasan yang ditawarkan.
Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan isi pesan. Penampilan, sikap, dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai lapisan masyarakat juga menjadi bagian penting bagi seseorang yang ingin terjun ke ruang publik.
Aktivis Muda Harus Siap Hadapi Tekanan Politik
Agung mengingatkan aktivis muda agar tidak hanya nyaman berada dalam lingkungan yang eksklusif. Mereka harus siap berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang dan kondisi.
“Kalau teman-teman mau turun ke publik, maju ke politik, harus siap semua,” katanya.
Menurutnya, dunia politik dan panggung publik akan menguji banyak aspek dalam diri seseorang, mulai dari gagasan, sikap, kemampuan berkomunikasi, hingga kesiapan menghadapi kritik dan tekanan.
Karena itu, ia meminta peserta mempersiapkan diri sejak dini dan memahami konsekuensi pilihan untuk masuk ke dunia politik.
Bagi mereka yang tidak siap menghadapi tekanan maupun dinamika politik, Agung menyarankan agar mempertimbangkan jalur pengabdian lain yang lebih sesuai dengan kapasitas dan karakter masing-masing.
Pada akhirnya, Agung menekankan bahwa kekuatan politik tidak dibangun secara instan. Aktivis muda perlu membangun kapasitas secara bertahap, mulai dari kemampuan melakukan riset dan menguasai data, memanfaatkan media sosial, memperluas jaringan, membangun struktur relawan, menyiapkan logistik, hingga mengasah kemampuan menyampaikan gagasan kepada publik.
Dengan fondasi tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika politik, tetapi mampu membangun gerakan dan mengambil peran nyata dalam kehidupan publik.
