
Puncak, Papua – Sebuah peristiwa tragis dilaporkan terjadi di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua, pada Senin (14/4/2026) sekitar pukul 05.00 WIT. Sedikitnya sembilan warga sipil dilaporkan tewas dan tiga anak mengalami luka tembak dalam dugaan operasi militer yang melibatkan helikopter dan pasukan darat.
Data sementara yang dihimpun menyebutkan, delapan warga sipil tewas dalam kejadian tersebut, namun sumber lain melaporkan jumlah korban mencapai sembilan orang. Adapun nama-nama korban jiwa yang berhasil diidentifikasi antara lain:
· Ekimira Kogoya (47)
· Wundili Kogoya (36)
· Amer Walia (77)
· Kikungge Walia (55)
· Deremet Telenggen (55)
· Inikiwewo Walia (52)
· Tiagen Walia (76)
· Pelen Kogoya (65)
Selain korban jiwa, tiga anak yang masih berusia 5 tahun mengalami luka tembak di bagian dada, kaki, dan lengan tangan. Salah seorang di antaranya bernama Para Walia. Ketiganya saat ini tengah menjalani perawatan intensif.
Berdasarkan laporan dari lapangan, operasi militer tersebut menggunakan empat unit helikopter serta pasukan darat yang diduga menyasar kawasan pemukiman warga. Padahal, Distrik Kembru sebelumnya telah disepakati sebagai lokasi pengungsian atau zona aman antara aparat keamanan Indonesia dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).
Distrik Kembru sendiri terdiri dari beberapa kampung, yakni Kembru, Nilime, Kamuma, Aguit, Molu, Belaba, Tinoti, dan Makuma. Informasi dari sumber media setempat juga menyebutkan bahwa pengeboman dilaporkan terjadi tidak hanya di Kembru, tetapi juga di Pogoma.
Warga yang selamat dilaporkan mengalami trauma psikologis berat akibat serangan yang terjadi di pagi buta tersebut. Hingga kini, pendataan korban sipil dari Distrik Sinak, Pogoma, dan sekitarnya masih belum tuntas karena berbagai kendala di lapangan.
Menyikapi insiden ini, Tokoh Muda Papua, Alfred Pabika, mengecam keras tindakan yang dinilainya biadab dan tidak mempertimbangkan ruang sipil. Alfred menyesalkan bahwa operasi militer serta keberadaan TPNPB/OPM justru terjadi di wilayah masyarakat sipil.
“TNI harus segera mengklarifikasi kematian sembilan warga sipil tak berdosa ini, mengingat ada balita yang menjadi korban,” ujar Alfred.
Ia juga menyoroti potensi saling tuduh antara TNI dan OPM pasca-kejadian. “Sangat disayangkan TNI dan OPM melakukan operasi di wilayah sipil. Sekarang sudah ada korban, keduanya mulai mencari kambing hitam,” tegasnya.
Alfred mendesak kedua belah pihak untuk jujur dan tidak saling mengalihkan tanggung jawab. “Kami mau TNI dan OPM jujur dan tidak mencari kambing hitam atau saling tuduh siapa pelakunya. Ini bukan hal baru terjadi di Papua, dan masyarakat Papua pun tahu siapa sebenarnya pelakunya,” sambung Alfred.
