
PROBOLINGGO – Perisaihukum.com
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, mulai menjadi perhatian masyarakat. Pasalnya, menu makanan yang diterima sebagian penerima manfaat dinilai belum sepenuhnya mencerminkan harapan masyarakat terhadap program pemenuhan gizi bagi peserta didik.
Berdasarkan dokumentasi yang diterima tim media, paket MBG yang dibagikan pada Rabu (26/8/2026) sekitar pukul 09.35 WIB di wilayah Pacar, Desa Jangur, berisi nasi, telur goreng berbalut tepung, sayuran, buah kelengkeng, serta makanan pendamping lainnya.
Sorotan masyarakat bukan semata-mata pada penggunaan telur sebagai lauk utama. Namun, perhatian lebih tertuju pada variasi menu dan kecukupan sumber protein yang seharusnya menjadi salah satu komponen penting dalam program pemenuhan gizi anak.
Salah seorang ibu dari penerima manfaat MBG mengungkapkan bahwa lauk ayam hanya diberikan pada hari Senin. Sementara pada hari-hari berikutnya, menu yang diterima anak lebih sering menggunakan telur sebagai sumber protein utama.
Informasi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai pola penyusunan menu MBG. Apabila menu serupa diberikan secara berulang, masyarakat menilai perlu adanya penjelasan terkait standar kecukupan gizi dan variasi sumber protein yang diterapkan dalam program tersebut.
Sebagai program nasional, MBG tidak hanya bertujuan menyediakan makanan bagi peserta didik, tetapi juga mendukung pemenuhan kebutuhan gizi guna meningkatkan kualitas kesehatan dan sumber daya manusia. Oleh karena itu, kualitas menu, komposisi makanan, keamanan pangan, serta variasi sumber protein menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian serius.
Masyarakat juga mempertanyakan kesesuaian antara tujuan besar program MBG dengan kondisi menu yang diterima penerima manfaat di lapangan. Harapan terhadap penyediaan makanan bergizi dengan variasi sumber protein yang memadai tentu menjadi bagian dari ekspektasi publik terhadap program tersebut.
Perlu dipahami bahwa telur merupakan salah satu sumber protein yang baik dan memiliki nilai gizi penting. Namun demikian, variasi menu tetap diperlukan agar kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi secara lebih seimbang sesuai standar yang telah ditetapkan.
Karena itu, perhatian publik seharusnya tidak diarahkan kepada petugas penyaji makanan semata, melainkan pada sistem penyelenggaraan program. Mulai dari penyusunan menu, perhitungan standar gizi, besaran anggaran per porsi, mekanisme pengawasan, hingga kesesuaian pelaksanaan di lapangan dengan ketentuan yang berlaku.
Pihak penyelenggara MBG diharapkan dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait standar menu yang diterapkan di wilayah Jangur. Termasuk menjelaskan apakah penggunaan lauk telur secara berulang merupakan bagian dari siklus menu resmi atau terdapat pertimbangan tertentu dalam penyusunannya.
Penjelasan yang terbuka dinilai penting untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat sekaligus menghindari munculnya berbagai asumsi yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Apabila pelaksanaan di lapangan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan, maka informasi tersebut perlu disampaikan secara transparan. Sebaliknya, apabila ditemukan adanya ketidaksesuaian, evaluasi dan perbaikan perlu segera dilakukan demi memastikan tujuan program benar-benar tercapai.
Anak-anak penerima manfaat MBG merupakan bagian dari sasaran program negara yang berhak memperoleh makanan bergizi, aman, layak konsumsi, dan sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
Tim media akan terus mendalami pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Jangur dan berupaya meminta klarifikasi dari pihak penyelenggara terkait komposisi menu, standar gizi, variasi lauk, serta mekanisme pengawasan program tersebut.
Reporter ; Rul
