
JAKARTA, perisaihukum.com
Jumlah prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon bertambah menjadi tiga orang. Dua prajurit, yakni Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu (Sertu) Muhammad Nur Ichwan, dilaporkan tewas dalam insiden ledakan yang terjadi di Lebanon Selatan pada Selasa (31/3/2026) waktu setempat.
Insiden tersebut terjadi ketika kendaraan yang mereka tumpangi terkena ledakan saat mengawal konvoi logistik pasukan penjaga perdamaian yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Kedua prajurit itu merupakan bagian dari Kontingen Garuda yang bertugas menjaga stabilitas dan keamanan di wilayah perbatasan Lebanon–Israel.
Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah insiden sebelumnya yang menewaskan prajurit TNI lainnya, yakni Praka Farizal Rhomadhon. Ia gugur setelah sebuah hulu meriam menghantam markas pasukan Indonesia di wilayah misi UNIFIL.
Rangkaian kejadian tersebut menambah daftar korban dari kontingen Indonesia yang sedang menjalankan mandat penjaga perdamaian di kawasan konflik Timur Tengah.
Menanggapi situasi ini, Menteri Luar Negeri RI Sugiono langsung melakukan komunikasi dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres. Dalam percakapan tersebut, Indonesia meminta agar Perserikatan Bangsa-Bangsa segera menggelar rapat darurat guna membahas serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian.
Pemerintah Indonesia menilai keselamatan personel UNIFIL harus menjadi prioritas utama, mengingat mereka bertugas di bawah mandat resmi PBB untuk menjaga stabilitas kawasan dan melindungi warga sipil di wilayah konflik.
Sementara itu, militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan akan melakukan penyelidikan atas dua insiden yang menewaskan prajurit Indonesia tersebut. Pihak IDF menyebut investigasi dilakukan untuk memastikan kronologi serta penyebab serangan yang mengenai area operasi pasukan penjaga perdamaian.
Indonesia sendiri merupakan salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB. Saat ini ribuan prajurit TNI tergabung dalam berbagai misi perdamaian dunia, termasuk di Lebanon melalui kontingen UNIFIL yang telah bertugas sejak 2006 setelah pecahnya konflik antara Israel dan Hizbullah.
Kementerian Pertahanan dan TNI menyatakan tengah berkoordinasi dengan pihak PBB terkait proses investigasi serta pemulangan jenazah para prajurit yang gugur. Pemerintah juga memastikan akan memberikan penghormatan militer serta santunan kepada keluarga korban.
Duka mendalam atas gugurnya para prajurit tersebut datang dari berbagai pihak di dalam negeri. Mereka dinilai telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan misi kemanusiaan dan menjaga perdamaian dunia di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa.
(Red)
