
Bali, Bedugul, perisaihukum.com
Pura Ulun Danu Beratan kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu ikon spiritual, budaya, dan pariwisata terpenting di Bali melalui gelaran Cultural Festival Ulun Danu Beratan & The Blooms Bali yang berlangsung sejak 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Festival ini menjadi penutup tahun yang sarat makna sekaligus pembuka harapan baru di awal Tahun Baru 2026.
Terletak di tepi barat Danau Beratan, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, kompleks Pura Ulun Danu Beratan dikenal unik karena salah satu pelinggihnya, Pura Lingga Petak, berdiri anggun di tengah danau. Keindahan alam pegunungan, udara sejuk Bedugul, serta pantulan pura di permukaan air menjadikan kawasan ini kerap dijuluki sebagai “pura terapung”.

Secara historis, Pura Ulun Danu Beratan memiliki keterkaitan erat dengan Kerajaan Mengwi, sebagaimana tercatat dalam Babad Mengwi. Keberadaannya diyakini telah ada sebelum pembangunan Pura Taman Ayun sekitar tahun 1634 Masehi. Pura ini didedikasikan untuk pemujaan Dewi Danu, dewi air dan kesuburan, serta Dewa Wisnu, sekaligus menjadi pusat spiritual penting bagi sistem irigasi tradisional Bali, Subak, yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.
Menariknya, kompleks suci ini juga mencerminkan harmoni antarumat beragama. Selain pelinggih Hindu, terdapat Stupa Buddha sebagai simbol toleransi, serta keberadaan Masjid Al Hidayah (Masjid Candi Kuning) yang tidak jauh dari area pura, menegaskan Bali sebagai ruang hidup budaya yang inklusif.

Festival Budaya sebagai Daya Tarik Wisata Berkualitas
Dalam festival budaya akhir tahun ini, pengunjung disuguhi beragam pertunjukan seni tradisional Bali, antara lain Gong Kembar, Tari Barong, dan Festival Tari Kecak. Pementasan digelar hingga malam hari dan mencapai puncak keramaian saat pergantian tahun, 31 Desember 2025 menuju 1 Januari 2026.
Suwarya, selaku Humas DTW Ulun Danu Beratan, menjelaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya nyata menjaga keberlanjutan budaya Bali.
“Festival seni budaya ini adalah agenda rutin kami setiap tahun, khususnya di bulan Desember. Yang tampil adalah penari dan penabuh dari desa-desa sekitar, lebih dari 20 desa. Kami memang lebih memprioritaskan generasi muda agar mereka belajar, tampil, dan mencintai budayanya sendiri. Di desa-desa itu sudah ada sanggar, ada guru tari, bahkan ada yang mendatangkan pelatih dari luar. Ini proses regenerasi budaya,” ujar Suwarya. Kamis, (1/1/2026) siang.
Ia menambahkan, wisatawan yang datang ke Bali tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik.
“Wisatawan ke Bali itu ingin melihat tradisi yang hidup, bukan sekadar tontonan. Mereka datang ke pura, lalu bisa langsung menyaksikan bagaimana budaya itu dijalankan. Festival ini menjadi ruang pertemuan antara ritual, seni, dan pariwisata yang beretika,” tambahnya.
Strategi Bertahan di Tengah Penurunan Kunjungan
Suwarya juga mengakui bahwa sepanjang tahun 2025 terjadi penurunan minat perjalanan wisata sekitar 30 persen, dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari isu ekonomi hingga bencana alam di sejumlah daerah seperti banjir di beberapa rute perjalanan wisata.
Namun demikian, para pelaku usaha dan pengelola DTW Ulun Danu Beratan memilih untuk tidak menyerah.
“Kami menyadari ada penurunan kunjungan, tetapi kami tidak berhenti berinovasi. Festival budaya, pelayanan yang lebih baik, dan promosi yang tepat menjadi strategi kami. Justru di saat seperti ini, kualitas pengalaman wisata harus ditingkatkan,” tegasnya.
Peran Protokol dan Marketing dalam Momentum Tahun Baru
Sementara itu, Seri, yang bertugas sebagai MC protokol acara sekaligus bagian dari tim marketing, menyebut bahwa momentum Tahun Baru 2026 dimanfaatkan sebagai ajang promosi budaya yang elegan.
“Acara ini dikemas dengan alur yang rapi dan komunikatif. Kami ingin pengunjung memahami bahwa yang mereka saksikan bukan sekadar pertunjukan, tetapi warisan budaya. Dari narasi MC, tata panggung, hingga jadwal tampil, semua diarahkan untuk memberi kesan mendalam,” jelas Seri.
Ia menambahkan, strategi marketing dilakukan secara humanis dan berbasis budaya, bukan sekadar promosi komersial.
“Marketing kami bukan hard selling. Penari, penabuh, dan suasana pura itu sendiri menjadi media promosi. Ketika wisatawan merekam, membagikan, dan menceritakan pengalamannya, di situlah nilai pemasaran budaya bekerja secara alami,” ujarnya.
Pusat Spiritualitas dan Simbol Nasional
Pura Ulun Danu Beratan juga memiliki nilai simbolik nasional. Keindahannya diabadikan sebagai gambar utama pada uang kertas Rp50.000 edisi 2016, menegaskan posisi pura ini sebagai representasi spiritualitas dan keindahan Indonesia.
Di kawasan ini tidak terdapat makam dalam arti kuburan umum. Area yang sering disalahartikan sebagai makam sejatinya adalah Pura Prajapati, tempat pemujaan Bhatari Durga, serta pelinggih lain yang bersifat sakral.
Selain upacara harian, Pura Ulun Danu Beratan memiliki Piodalan dua kali setahun berdasarkan kalender Pawukon Bali (210 hari), serta upacara besar seperti Pakelem yang digelar lima tahunan dan Mapag Toya saat Purnama Sasih Kepitu.
Harapan Tahun Baru 2026
Memasuki tahun 2026, pengelola berharap sinergi antara budaya, spiritualitas, dan pariwisata berkelanjutan dapat terus terjaga.
Festival budaya di Ulun Danu Beratan tidak hanya menjadi penanda pergantian tahun, tetapi juga simbol keteguhan Bali dalam menjaga jati diri di tengah dinamika zaman—bahwa di balik danau yang tenang dan kabut pegunungan Bedugul, budaya Bali terus hidup, tumbuh, dan menyambut dunia dengan kearifan.
Editor: zakaria (Bang zeck)
